Selasa, 02 Juni 2015

Arti Dari Sebuah Kasih Sayang

Waktu dimulai secara perlahan namun pasti, setiap orang pasti memiliki impian dan harapan masing-masing. Aku hanya bisa berdiri menatap ke seberang jalan melihat orang-orang sukses itu berkumpul bersama. Seluruh ruangan itu dipenuhi dengan tawa mereka, percakapan mereka. Sementara aku hanya bisa tertunduk dan terdiam melihat itu semua, aku tak dapat berbuat apa-apa, yang kutahu satu hal ialah aku ini hanyalah seorang ojek payung yang menjajankan payung pada setiap orang yang kebetulam lewat didepanku. Aku hanya bisa tersenyum dan mengangis dalam hati, setiap tetesan air mata yang keluar, tersapu oleh air hujan yang membasai wajahku.

"Dek..." Himbau seorang wanita paruh baya yang memecahkan segenap lamunanku akan nasi hangat, makanan lezat bahkan tempat teduh yang dipenuhi dengan musik yang merdu. "Iya Tan...?? Jawabku dengan nada yang halus dan datar, "Tolong ya kamu antarkan belanjaan ini kedalam taxi itu dan kamu kembali lagi kesini untuk menjemput Tante,,," Katanya seraya memberikan dua kantongan hitam yang besar yang berisikan makanan dan buah, tanpa pikir panjang aku langsung meraih kantongan hitam itu dan segera mengantarnya ke taxi yang ditunjuk olehnya. "Mari Tante" kataku seraya menghampirinya dan memberikan payungku padanya. Hal yang selalu terbesit dibenakku" Sampai kapan aku akan seperti ini? sampai kapan aku harus melakukan ini semua? Apa aku tidak bisa merasakan kebahagiaan dan merasa memiliki? Sudahlah mungkin aku sudah ditakdirkan menjadi seperti ini, mungki  aku akan berakhir menjadi orang biasa dan tak bisa jadi apa-apa.


Pagi yang indah disambut dengan kicauan burung dan teriknya matahari membawa aku dalam lamunanku kembali, "Apa bisa aku beristirahat sejenak dan menikmati indahnya pagi ini dengan secangkir Teh dan beberapa Majalah seperti halnya orang kaya itu? "Kataku dalam hati kecilku. Segera aku beranjak dari tempat tidurku dan keluar dari lamunan yang semakin lama hanya akan memperburuk keadaanku. Hari ini tidak akan turun hujan sehingga aku meninggalkan payungku dikamarku yang kecil, biasanya aku membawanya ketika cuaca agak mendung, sehingga saat pulang dari kampus aku bisa ojek payung.

Aku hidup sebatang kara. Disaat umur 3 Thun Ayah pergi untuk selamanya, dan saat itu Ibu lah yang tetap bersama ku. Tapi setelah Kelas IV SD Semester 2 Ibu pergi meninggalkan aku lagi untu bertemu dengan Ayah. Pada saat itu aku belum tahu apa itu arti dari sebuah Kematian. Sekarang aku Yatim Piatu. Hingga pada akhirnya ada seseorang yang merasa iba melihat keadaanku segingga ia mengasuhku.

Sebab itu aku selalu mensyukuri segala keadaanku dan selalu tersenyum di ketidakberdayaanku, aku tahu esok akan lebih baik dari hari ini, dan hari-hari penuh dengan masalah pasti akan berakhir juga. Pahitnya hidup telah aku lewati.

Dalam kesunyian aku berdendang, aku selalu berusaha untu gembira dan tidak merasa kesepian, meskipun tak bisa dipungkiri terkadang aku begitu ingin melihat sosok kedua orangtuaku. Aku rindu mereka hingga pada saat ini.

9 Tahun lamanya aku dirawat oleh keluarga ku setelah kematian orangtuaku. Hingga pada saat ini aku belum bisa memberikan yang terbaik bagi mereka. Kadang-kadang aku mengecewakan mereka, kadang-kadang aku membuat mereka menangis.

Tapi dalam hatiku "aku sangat mencintai keluarga baruku itu, merekalah permata hatiku.
(Bersambung.....!!!)

Tidak ada komentar :

Posting Komentar